Mini Cerpen : Dine dan Dunia Paralel

           DINE DAN DUNIA PARALEL

 

Namaku Dine, artinya gemar menolong. Orang tuaku berharap kelahiranku bisa bermanfaat dan menolong banyak orang. Beruntungnya aku memang suka menolong, tapi sayangnya aku pemalas. Malas mengerjakan tugas sekolah dan gemar bermain game pemecah misteri hingga lupa waktu.

Aku memiliki seorang sahabat, namanya Oca. Dia orang yang keras kepala dan sangat menyukai seorang lelaki yang bernama Bagas. Jangan sekali-kali menyentuh Bagas, karena dia pasti akan memberikan pelajaran kepada siapapun itu, termasuk aku sahabatnya.

Beberapa hari lalu aku membeli tteokbokki di kantin sekolah. Kebetulan aku tidak bersama Oca, karena dia sedang rapat OSIS. Lalu, aku berpapasan dengan Bagas. Tiba-tiba aku tersandung dan Bagas segera berlari menolongku agar aku tidak terjatuh. Sayangnya, teman sekelasku melihat kejadian itu dan segera melaporkannya ke Oca. Mereka kira aku menjalin hubungan diam-diam di belakang Oca.

Setelah selesai rapat OSIS, Oca pun geram mendengar kabar tersebut dan langsung mencariku keseluruh sudut sekolah. Aku berpapasan dengan Oca di lorong, dia menatapku dengan sinis dan menyeretku ke halaman sekolah saat itu juga.

Plak!  

Sebuah tamparan keras yang memecah keheningan di halaman sekolah. Dua sekawan yang sedang bertengkar hebat hanya karena masalah kecil. Mereka terus bersilat lidah, keduanya pun tak ada yang ingin mengalah. Sehingga suasananya amat memanas.

“Dasar sahabat nggak punya hati!” Ucap Oca dengan nada tinggi.

“Kenapa sih Ca?” Jawabku dengan kebingungan.

“Enni bilang ke aku kalau dia liat kamu tadi berduaan sama Bagas di kantin! bisa-bisa nya kamu merebut dia dariku. Kamu nggak pantes jadi sahabatku.” Jawab Oca sambil membentak.

 “Ini salah paham Ca, biar aku jelasin dulu aku tersandung dan Bagas hanya....”

“Nggak usah mengelak lagi Din, Plak!” Suara tamparan itu, sangat nyaring dan jelas yang mendarat di pipiku sesaat aku belum menjelaskan semuanya.

Kemudian aku meninggalkan Oca dengan perasaan kesal ke kelas, namun setelah melewati lorong keadaan mendadak gelap tak lama kulihat cahaya putih sangat terang benderang, aku pun langsung menuju ke sumber cahaya itu. Tak disangka betapa terkejutnya aku ketika melihat keadaan di sekitarku, tersadar bahwa aku dan Oca sudah tidak lagi di sekolah. Tempat ini sangat gelap, kotor seperti tak terurus dan juga tak berpenghuni, hingga kerudung kami pun beterbangan seperti bulu yang ringan.

Kami kebingungan dan merasa asing. Bagaimana mungkin pusat kota terlihat sepi? Apakah kita sedang berada di dunia lain? Dunia apa ini? Langit terlihat muram, listrik padam, tak ada sinyal internet, banyak mobil yang terpakir sembarangan, kami dikelilingi gedung perkantoran dan apartemen tinggi dengan cahaya merah yang sangat terang bertuliskan “Let’s Play”  yang artinya mari bermain.

“Kita dimana?” Tanyaku dengan raut wajah yang panik.

 “Nggak tau. Ayo kita langsung cek ke dalam aja!” Kata Oca sambil mengajakku untuk melangkah ke gedung itu.

“Tunggu Ca! Kita belum tahu itu tempat apa, jadi terlalu berbahaya. Jangan ya?” Ucapku sambil meyakinkannya.

Tetapi Oca tidak mendengarkanku dan terus melangkah ke dalam gedung itu. Sejujurnya aku sangat takut, dan ingin lapor polisi tetapi aku tak membawa handphone. Saat kami tiba di sana ternyata sudah ada dua buah jam tangan yang berwarna merah dan biru untuk kita berdua, rasanya kami sudah ditunggu-tunggu untuk memainkan permainan ini.

Tanpa ragu kami memasuki arena bermain. Tertera tulisan yang amat besar yang bertuliskan “Press the play button if you want to start, remember that lives are at stake if you choose to leave the game or fail to complete it”. yang artinya tekan tombol mulai jika anda ingin memulai, dan ingat bahwa nyawa dipertaruhkan jika anda memilih untuk meninggalkan permainan atau gagal menyelesaikannya.

“Hah?! Permainan ini sangat mengerikan. Mengapa menyebutkan nyawa, itu sangat aneh. Ayo kita kembali saja Ca.” Tubuhku langsung merinding begitu membacanya.

“Hahahaha kamu takut Din? Cemen, selagi disini ayolah kita bermain paling juga ini hanya bercandaan. Mana mungkin ada permainan seperti ini.” Ucapnya dengan berani.

“Aku nggak takut, tapi bagaimana jika ini nyata dan aku terbunuh? Aku masih ingin membanggakan kedua orang tuaku Ca. Please jangan ke sana!” Jawabku sambil meyakinkan Oca untuk tidak melanjutkannya.

Lagi-lagi Oca tidak mendengarkanku, dia sangat keras kepala. Aku sangat kesal dibuatnya, namun aku juga membenci diriku karena menyetujuinya untuk bermain.

Kami memencet tombol mulai bermain dan bergegas memasuki arena bermain, di sebuah meja lobi, sudah disediakan dua buah jam tangan khusus yang berfungsi untuk mengetahui berapa lamanya permainan berjalan. Permainan yang kami mainkan yaitu “Petak Umpet” yang artinya kami harus bersembunyi dari penyihir dan mencari ruangan atau zona aman agar tidak tertembak. Jika kami tidak berhasil menemukan zona aman itu, maka kami berdua akan mati. Karena aturannya, dalam jangka waktu 15 menit pemain harus menemukan ruangan aman di gedung tersebut. Jika gagal, maka sebuah bom akan meledak dan menghancurkan bangunan gedung tinggi itu.

Akupun mengambil salah satu dari dua jam tangan tersebut, yang kuambil berwarna merah. Sedangkan Oca mengambil jam tangan yang berwarna biru. Kami bergegas memakainnya di pergelangan tangan. Kurang dari semenit, suara peringatan untuk memulai game sudah terdengar. “Game akan segera dimulai” seperti itu bunyi suara misterius yang mengingatkan kami. Aku dan Oca berada di tempat terpisah untuk mencari zona aman.

Sementara itu, aku melihat sang penyihir di ujung koridor yang sedang memegang senapan pistol bertipe Heckler & Koch HK416. Aku sering melihatnya, karena ayahku seorang tentara khusus. Senjata api ini dapat menembakkan 900 butir peluru tiap menit. Akupun berlari secara mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh sang penyihir.

Setelah berkeliling, akhirnya aku menemukan sahabatku yang tengah berdiri didepan unit nomor 96. Unit itu adalah zona aman yang berada di lantai 5. Saat ingin memasukinya, tiba-tiba penyihir muncul di ujung koridor lantai 6. Kami berdua panik karena tak bisa membuka pintunya. Aku dan sahabatku segera bersembunyi di belakang tangga.

Lalu kami ketahuan, sehingga penyihir itu menarik pelatuknya dan menembakkan pelurunya ke dahi sahabatku.

Dorrrrrr...  

Tepat di depan unit nomor 96. Sahabatku tertembak, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan darah. Setelah penyihir itu pergi aku mendatanginya dan bingung harus bagaimana, yang bisa aku lakukan hanya menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak meminta tolong namun tak ada seorang pun yang menyahut.

Aku menatap jam di tangan kiriku, dan waktu sudah menunjukkan bahwa permainan tinggal tersisa 3 menit lagi. Aku bergegas mengambil pot bunga yang ada di depan pintu dan merusaknya. Dengan harapan itu bisa membuka unit 96.

Brakkk!!

Terbukalah pintu itu, aku segera memasukinya dan membawa jasad sahabatku ke dalam ruangan. Tiba-tiba muncul suara yang mengatakan “Selamat anda berhasil dalam babak ini segeralah mengambil kartu anda di lobi dan dalam 50 detik gedung akan dihancurkan.”

Tanpa pikir panjang, aku turun melewati tangga gedung itu dan meninggalkan sahabatku di sana karena sudah tak memiliki sisa waktu lagi. Saat aku sampai di lobi aku bergegas mengambil kartu itu dan menaruhnya di saku celanaku, sebuah kartu remi berlogokan satu hati. Aku pun tak tahu apa fungsinya. Kemudian aku berjalan keluar gerbang dengan langkah yang lemas dan tak terima bahwa sahabatku telah tiada. Aku mengusap mataku yang basah karena air mata, meratapi persahabatan kita yang sudah terjalin selama 3 tahun lamanya dengan penuh suka duka.

Setelah berkeliling kesana dan kemari tak ada seorang pun yang mendiami tempat ini. Rasa lapar, haus, dan kantuk menjadi satu pada diriku. Selagi menahan lapar akupun menangis.

“Sudahlah jangan menangis lagi dan bertahan hiduplah untuk sahabatmu.”

Suara misterius itu berasal dari mana? Saat aku menoleh tak ada seorang pun di sini. Apakah ada penghuni lain? Tiba-tiba, tangan kananku ditarik oleh seorang laki-laki yang tampaknya sebaya denganku.

“Kamu siapa?” Tanyaku.

“Namaku Kyan, aku sudah lama terjebak di sini dan aku sudah banyak menemukan orang yang sepertimu, kehilangan teman, lalu malah membunuh dirinya sendiri karena frustasi. Kau harus berterima kasih kepadaku karena berkatku kamu tidak melakukan itu.” Jelasnya.

“Apakah kau tahu kita ini ada dimana? Sepertinya tak ada penghuni di sini dan mengapa kita harus memainkan sebuah game yang mempertaruhkan nyawa?” Tanyaku kebingungan.

“Ini adalah kota Utopis, kota yang kaya akan flora dan fauna, begitupun masyarakatnya sangat adil dan jujur. Namun pada suatu hari sejak datangnya Mira, sosok yang selama ini menjadi master game yang membuat kota Utopis menjadi hancur. Ayo kita keluar bersama-sama dari kota Utopis ini dan bertemu dengan Mira. Pasti dia adalah kunci dari semuanya. Kau mau ikut bergabung bersamaku untuk mencarinya?” Ucap Kyan.

“Aku ingin keluar dari sini! Apapun caranya aku akan ikut bersamamu.” Singkatku.

Setelah percakapan pendek itu, aku dan Kyan memulai petualangan bersama-sama. Untuk menemui Mira, kami harus melewati peta Stronghold, dan Elondria. Hanya bermodalkan kaki, nampaknya kami akan tiba dalam waktu yang lama. Stronghold adalah tempat yang hanya memiliki musim dingin. Oleh sebab itu aku dan Kyan memutuskan untuk beristirahat di dalam gua untuk makan dan minum. Kyan sibuk mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh, dia sungguh baik.

Langit sudah gelap dan aku masih memandangi salju yang turun dari langit sambil mengenang sahabatku. Aku merasa bersalah sudah meninggalkannya, namun apa boleh buat tak ada yang bisa kulakukan untuknya.

Kyan menaruh kayu di dalam gua dan membakarnya agar hangat.

“Apa yang membuatmu disini? Tampaknya kamu sudah mengenal tempat ini dengan baik.” Ucapku.

“Aku terjebak di sini sudah tiga tahun yang lalu, awalnya aku bertengkar dengan ibuku karena dia tidak memperbolehkanku untuk menjadi atlet sepak bola. Ibuku meninginkan aku untuk menjadi polisi. Aku menyesal sudah memakinya, aku ingin secepatnya kembali dan menemui ibuku. Omong-omong, siapa namamu?” Jelas Kyan.

“Oh ya aku hampir lupa. Kenalin namaku Dine, aku juga tiba di sini karena bertengkar dengan sahabatku. Ternyata sudah lama ya terjebak disini, apa kamu selalu gagal dalam mencari jalan keluar?” Ujarku.

“Tahun lalu, aku hampir tertembak dalam permainan petak umpet. Namun aku berhasil lolos.” Ucap Kyan sambil memasuki tenda di dalam gua.

Dalam pertengahan percakapanku dengan Kyan tiba-tiba di depanku muncul sebuah lubang hitam atau black hole, aku segera berlari ke dalam tenda.

“Kyan, Kyan! Lihat deh. Di atas langit ada lubang hitam, sepertinya itu tempat untuk kembali ke bumi. Benar kan?” Tanyaku dengan serius.

“Wah apakah ini saatnya untuk kembali? Akhirnya, Ayo kita masuk saja Din.” Jawab Kyan dengan kegirangan.

Srsksksksk..

Itu adalah suara lubang hitam yang telah dimasuki aku dan Kyan. Black hole itu tertutup dan kami ternyata bukan ke bumi, tapi malah terjebak di ruang bawah tanah sang master game kota Utopis ini.

“Apa-apaan ini Kyan, kita jadi terjebak disini karena kamu!” Ucapku dengan kesal.

“Loh kok nyalahin aku, kalau kamu tidak memberitahuku ada black hole kita nggak bakal ada disini. Sudahlah daripada kita bertengkar dan menyianyiakan waktu, lebih baik kita memikirkan bagaimana cara untuk keluar. Karena ini penjara bawah tanah, sangat percuma jika kita berteriak. Pasti tak akan ada yang mendengar.” Ujar Kyan.

“Aku akan mencari kunci, tunggu disini.” Tambah Kyan.

Saat Kyan menuju ruang gudang bawah tanah yang sangat gelap untuk mencari kunci, aku melihat sebuah bom waktu yang diletakkan di ujung pintu. Bom itu menunjukkan waktu hanya 2,5 menit dan sekarang hanya tersisa satu menit. Aku panik dan keringatku mulai bercucuran, dengan cepat aku menemui Kyan dan membantunya untuk mencari kunci. Namun kami tak kunjung menemukannya. Aku dan Kyan hampir pasrah hingga akhirnya aku menemukan sebuah kotak dengan seukuran kartu yang sudah berdebu. Kotak itu bertuliskan “Kumpulkan kartu disini.” Alih-alih membawa kunci yang kuberikan kepada Kyan hanyalah sebuah kotak kayu usang dan berdebu.

“Apa ini? Kau ingin menabung?” Tanya Kyan sambil gemetar karena mengingat waktu tersisa 27 detik.

“Tidak. Ini sangat mencurigakan coba kau lihat didalamnya bertuliskan kumpulkan kartu disini, apa kau mengerti?” Ucapku dengan panik.

“Aku rasa ini sebuah pengumpulan kartu remi yang bersimbol satu hati, apa kau mendapatkannya saat bermain game tadi?”

“Ya aku ada, satu.” Akupun mengambil kartu itu di saku celanaku, dan memberikannya kepada Kyan.

“Mari kita coba menggabungkannya ya. Satu..  dua.. tiga..” Jawab Kyan dengan ragu.

Waktu tersisa dua detik dan kami segera menutup kotak usang tersebut. Tring, bunyilah sebuah suara ajaib yang menghantarkan mereka kembali ke bumi.Tidak seperti kota Utopis yang mereka singgahi, langit terlihat muram, listrik padam, tak ada sinyal internet, banyak mobil yang terpakir sembarangan dan tak ada penghuninya.

Aku dan Kyan pun kembali ke dunia yang semestinya. Kami saling berterima kasih satu sama lain, Kyan juga berjanji akan menjadi sahabat selamanya yang selalu ada di saat senang maupun susah.

Tiba-tiba aku terbangun di UKS sekolah, aku terheran-heran ternyata itu hanya mimpi sungguh menyebalkan! Sontak aku langsung memeluk Oca, dia langsung memanggilku sambil menangis. Ternyata waktu kami bertengkar, aku pingsan tepat setelah dia menamparku dan akhirnya Oca meminta maaf kepadaku. Sejak kejadian itu, kami berjanji bahwa tidak akan terjadi lagi kesalahpahaman di antara kita hanya karena masalah kecil. Sehingga persahabatan kita menjadi hancur dan saling bermusuhan.                                                           

                                                                        !!! END !!!

Thankyou for the Readers <3 

Credit: Adinda Nabila ( Dine )

Credit Photo : Alice in Borderland Netflix series

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar